Jumat, 18 Juni 2010 | 07:52 WIB
BM Lukita Grahadyarini
Indonesia boleh berbangga. Kekayaan biota laut perairan kita
ibarat "surga" yang kerap membuat iri negara lain. Adalah kerapu (Epinephelinae)
salah satu komoditas unggulan yang sukses diternakkan di Tanah Air dan banyak
diburu negara lain.
Seorang pengusaha ikan kawakan pernah menuturkan, perairan
Indonesia terpengaruh oleh dua musim subur bagi perkembangbiakan ikan-ikan
laut. Hanya saja potensi itu belum diperhatikan, termasuk oleh negara.
Saat ini pasar ikan kerapu tidak terdengar gaungnya di dalam
negeri sebab sebagian besar produknya "dilarikan" ke luar negeri.
Harga ikan dengan ciri tutul-tutul atau belang-belang di tubuhnya ini mencapai
Rp 500.000 per kilogram.
Sebagai ilustrasi, harga ekspor kerapu bebek saat ini 50
dollar AS (sekitar Rp 465.000) per kg, kerapu macan 11 dollar AS per kg, dan
kerapu lumpur 10 dollar AS per kg. Ukuran kerapu yang diekspor minimal 500 gram
per ekor.
Bangun Sitepu, pembudidaya kerapu di Lampung Barat,
menuturkan, ekspor kerapu ke Asia terus naik seiring tingginya minat penduduk
Asia Timur mengonsumsi kerapu. Apalagi tidak banyak negara di Asia mampu
membudidayakan kerapu di wilayah perairannya.
Beberapa jenis kerapu yang sukses dibudidayakan di Tanah Air
adalah kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan kerapu bebek (Cromileptes
altivelis) yang harga jualnya tinggi. Selain budidaya, produksi kerapu juga
diperoleh dari penangkaran hasil tangkapan alam, di antaranya kerapu sunu (Plectropomus
spp) dan kerapu lumpur (Epinephelus suillus).
Sitepu menuturkan, banyak pembudidaya kerapu asal Thailand,
Malaysia, Hongkong, dan China membeli benih kerapu bebek dari Indonesia untuk
dikembangbiakkan. Namun, upaya pemijahan itu kerap gagal.
"Sudah 10 tahun terakhir pembudidaya kerapu luar negeri
membeli benih kerapu bebek untuk dibudidayakan, tetapi hasilnya sulit karena
kerapu bebek dan macan ternyata lebih cocok berkembang biak di perairan
Indonesia," ujar Sitepu, yang juga Ketua Forum Komunikasi Kerapu Lampung.
Produksi kerapu di Tanah Air tersebar di sejumlah daerah.
Kerapu bebek, misalnya, tersebar di Lampung, Bali, Lombok, Sumbawa, Bangka
Belitung, dan Ambon. Adapun kerapu sunu mengandalkan hasil tangkapan alam di
Sumatera.
Tingginya permintaan ekspor membuat konsumen luar negeri
rela ke sentra-sentra produksi kerapu di sejumlah perairan Indonesia guna
memburu ikan bernilai mahal itu. "Berapa pun hasilnya, pasti diserap
pasar. Ini membuat nilai tawar kerapu cenderung tinggi," ujar Sitepu.
Budidaya kerapu mendorong pertumbuhan usaha pembenihan.
Benih kerapu saat ini dijual rata-rata Rp 12.000-Rp 14.000 per ekor benih
ukuran 6-7 cm. Namun, pasokan benih terkadang terbatas.
Di Belitung, misalnya, kebutuhan benih kerapu mencapai
10.000-15.000 ekor. Namun, terkadang para pembenih tidak mampu memasok
semuanya.
Dedi Yusrifan, pembenih kerapu di Belitung, menuturkan,
kegagalan pembenihan kerap dipicu oleh mutu telur yang kurang baik dan cuaca
yang tidak mendukung.
Belum didukung
Kendati prospek usahanya tinggi, belum banyak orang berani
terjun ke usaha ikan kerapu. Total areal budidaya kerapu secara nasional saat
ini baru 84.500 hektar, hanya 2,51 persen dari potensi budidaya laut seluas
3,36 juta hektar.
Kendala budidaya itu dipicu oleh usaha kerapu yang padat modal
dengan masa produksi relatif lama. Budidaya kerapu macan, misalnya, membutuhkan
waktu 1 tahun 7 bulan untuk ukuran siap ekspor. Kerapu bebek mencapai 10 bulan,
sedangkan penangkaran kerapu hasil tangkapan membutuhkan 10 bulan hingga 1
tahun.
Modal operasional budidaya kerapu juga tinggi. Dibutuhkan
dua jenis pakan, yakni pakan berupa ikan kecil seharga Rp 2.500-3.000 per kg
dan pelet Rp 55.000 per kg. Setiap KJA kerapu berisi 250 ikan membutuhkan
rata-rata 3-6 kg pakan ikan setiap hari, di luar kebutuhan pelet.
Usaha kerapu yang sebagian besar dikembangkan di daerah
terpencil juga terganjal pasokan listrik, transportasi, dan minimnya
pendampingan dari pemerintah. Zonasi kawasan budidaya yang belum diatur membuat
lokasi budidaya kerap tumpang tindih dengan alur pelayaran ataupun
terkontaminasi limbah.
Sementara itu, pembiayaan untuk sektor perikanan masih
dihindari oleh perbankan. Akibatnya, kredit usaha perikanan terbelakang dengan
realisasi di bawah 1 persen per tahun.
Tahun 2009 telah ada kesepakatan Kementerian Kelautan dan
Perikanan bersama Bank Indonesia untuk meningkatkan pendampingan usaha kecil
dan menengah agar memperoleh akses pembiayaan perbankan serta informasi pola
pembiayaan komoditas unggulan perikanan. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil.
Andai dikelola dengan tepat, potensi kerapu akan
membangkitkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Imbal balik berupa pendapatan
dan devisa sudah tentu juga dinikmati negara.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Noor Muhammad
BalasHapusNIM : 12/335165/PN/13028
Golongan : A3.1
Kelompok : 1
1.Adakah nilai Penyuluhan
*Sumber Teknologi / Ide
Tidak budidaya ikan kerapu masih menggunakan cara tradisional . Hal ini terlihat dari budidya kerapu masih dipengaruhi musim dan waktu panen serta pertumbuhanya belum bisa cepat.
*Sasaran
Sasaran yang dituju yaitu pelaku usaha dan pembudidaya ikan kerapu
*Manfaat
Dengan mengetahui peluang usaha dan keuntungan yang menjanjikan , serta pangsa pasar yang luas akan membuat pelaku usaha terjun dibidang budidaya dan pembenihan ikan kerapu .
*Nilai Pendidikan
Pembudidaya akan mengetahui peluang usaha , harga pasar ikan kerapu dan masalah yang dihadapi para pembudidaya . Sehingga menstimulasi untuk selalu melakukan percobaan dan pengembangan teknologi .
2.Nilai Berita yang terkandung dalam artikel
*Timelines ada , karena artikel ini diposting pada Jumat, 18 Juni 2010
*Importance , Tulisan diatas berisi tentang pangsa pasar ikan kerapu dan informasi jenis ikan kerapu yang member banyak keuntungan .
*conflict
Usaha budidaya ikan memiliki prospek yang tinggi, namun belum banyak orang berani terjun ke usaha ikan kerapu. Kendala ini dipicu oleh usaha kerapu yang padat modal dengan masa produksi relatif lama. . Pembiayaan untuk sektor perikanan masih dihindari oleh perbankan.